MTsN 6 Malang Membumbungkan Semangat Kemerdekaan

Tepat pada tanggal 16 Agustus 2018, hari menjelang kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73, segenap warga MTsN 6 Malang membuka kobaran semangat ’45 bagai pejuang-pejuang yang telah gugur demi kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan melaksanakan Festival Layang-Layang Bhinneka dan Windsock bertajuk “Kerja Keras Kita Solusi Bangsa”. Acara yang semarak ini dipersiapkan dengan semangat menggebu oleh siswa-siswi beserta wali kelas masing-masing sejak seminggu sebelumnya. Layang-layang rancangan siswa-siswa keren MTsN 6 Malang sangat luar biasa dengan mengusung tema yang beragam, seperti Garudaku Melesatlah bagai Gandewa, NKRI Harga Mati, Bhinneka Tunggal Ika, Garudaku yang Gagah, dan banyak lainnya. “Teman-teman sangat kreatif sekali dalam merancang tema layang-layang, merakit, hingga menghias layang-layang mereka” jelas Adit, siswa kelas 8. Tak kalah bagusnya, para siswi telah membuat Windsock dengan bentuk dan motif yang beragam. Windsock bagus nan elok buatan mereka menghias Lapangan terbuka Sukoraharjo menjadi lebih gebyar. Ada yang berbentuk spiral, ada yang berbentuk rumbaian, ada juga yang berbentuk kaki-kaki gurita, dan sebagainya. Windsock-windsock itu berkibar gemulai menentukan arah mata angin untuk memudahkan sang pemain membumbungkan layang-layang setinggi-tingginya. “Anak-anak pandai sekali membuat Windsock yang cantik-cantik, warnanya bagus-bagus”, terang Bu Tutik.
Semarak festival ini juga diwarnai dengan busana yang digunakan warga MTsN 6 Malang. Siswa-siswi memakai pakaian bernuansa merah putih sebagai lambang kemerdekaan untuk menyambut hari ulang tahun Republik Indonesia. Berbeda dengan siswa-siswi yang menjadi peserta lomba, beberapa dari mereka mengenakan pakaian adat, seperti Kalimantan, Jawa, Madura, dan lain-lain. Tak lain pula dengan guru-guru yang juga menyemarakkan kebhinnekaan dengan menggunakan pakaian perjuangan dan pakaian adat. Warna-warni busana yang dikenakan warga MTsN 6 Malang menambah kemeriahan festival menyambut hari kemerdekaan.
Acara yang dihadiri oleh PLH Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Malang dibuka dengan tarian asal Nusa Tenggara Timur. Warga MTsN 6 Malang menyebutnya dengan “Senam Maomere”, tarian tersebut menandakan persaudaraan Bhinneka tanpa membedakan barat-timur. Saat musik pengiring senam mulai mengalun kencang, seluruh pasukan kemerdekaan menghentakkan kaki dan bergoyang sesuai intruksi tiga siswi yang sudah mahir gerakan Senam Momere. Seluruh pasukan nampak antusias melakukan setiap gerakan Senam Maomere bagai api merdeka yang membakar para penjajah. Tak hanya itu, barisan pasukan kemerdekaan membentuk konfigurasi angka 73 sebagai pertanda rasa bangga atas kemerdekaan bangsa yang berusia 73 tahun. Merdeka… Merdeka… Merdeka…
Motto Abhikarsya Win Win Hebat Bermartabat bergema membahana menyambut pembukaan festival layang-layang secara simbolis oleh Dr. Muhajir, M.Ag., selaku PLH Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Malang didampingi Dr. Sutirjo, M.Pd., selaku Kepala Madrasah MTsN 6 Malang dengan menabuh gendang dan menerbangkan layang-layang. Angin menyapa dengan hembusan kuat yang menandakan bahwa Festival Layang-Layang Bhinneka dan Windsock resmi dibuka.
Para siswa mulai menerbangkan layang-layang setinggi asa sesuai nomor urut masing-masing. Banyak layang-layang yang berhasil mengangkasa bersama angin kemerdekaan, baik itu yang berukuran besar maupun kecil. Apabila biasanya hanya ada senam, panggung gembira, dan lomba-lomba 17-an. Maka, festival ini adalah kegiatan luar biasa, sederhana tapi mengena, kreativitas kawula muda penerus bangsa terpatri dalam festival ini. Kata Bapak Kepala Madrasah, “Festival Layang-Layang Bhinneka dan Windsock merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan dengan tema yang berbeda, karena dengan demikian siswa-siswi tergugah untuk menunjukkan kreativitas tanpa batas sebagai bukti bahwa mereka adalah anak-anak kebanggaan Bangsa Indonesia.” Hidup Indonesiaku! Berjayalah Selalu!
Selain siswa-siswi MTsN 6 Malang yang menjadi peserta lomba layang-layang, adapula masyarakat sekitar sekolah yang ikut serta menyemarakkan festival ini. Bagaimana tidak? Hadiah yang disuguhkan bagi para jawara adalah karpet musola dengan total puluhan meter. Memang bukan hadiah yang mewah, namun sangat bermanfaat untuk kegiatan ibadah di musola-musola sekitar MTsN 6 Malang. Di samping itu, ada juga puluhan doorprize menarik yang menanti para peserta yang beruntung. Inilah sebagian dari wujud syukur kepada Yang Maha Esa karena telah memberikan takdir kemerdekaan bagi Indonesia tercinta. Terima kasih juga kepada para pejuang yang telah berjuang sampai titik darah penghabisan untuk negeri kolam susu ini. (nna)

You may also like...

2 Responses

  1. ABDUL WAHID says:

    Hidup Indonesiaaaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *